Jarak masih saja bagaikan musuh,
padahal ia yang menyediakan khidmat pada rasa rindu.
di dekapmu, tak tersedia menu pulang.
Lekap, memang, tapi tombol itu tak ada.

Kita telah tersesat
dan bertabrakan di sini
Saling menjulurkan sulur,
menari, membuat simpul, menari, saling mengarih,
tapi rangup.

Seandainya musim tidur telah usai,
sulur-sulur itu akan mencair seperti salju,
dan kita bebas menari lagi, tertancang lagi, berpalunan lagi.

Tak kutemukan tombol pulang di genggammu.

Dan kita, tetaplah orang-orang asing yang saling membelit, saling berpagut, saling menangkap, saling menikmati, saling memangsa, saling berbagi fana.

Tapi aku masih saja tak menemukan tombol pulang dalam kecupmu.
Dan jarak yang angkuh, masih seperti musuh, malah membentangkan kabut, enggan bermurah hati.

Depok | sekitar tengah malam | antara 25 dan 26 Maret 2010

 

4 Responses to Musuh

  1. gauzal says:

    lekap, sulur, mengarih, rangup, tertancang, berpalunan. itu semua bahasa indonesia mbak? :p

  2. GaL says:

    :)
    Selalu keren
    Ji, ini udah pernah baca deh, kamu pernah posting dmn ya? FB? *bener gak?

Leave a Reply

WP Like Button Plugin by Free WordPress Templates