Sudah lama tak pernah lagi kulihat kelebat anak panah menusuk gemintang.
Di sudut bumi lain, serpih-serpih bintang yang berhasil kaupecahkan berjatuhan dalam hujan cahaya.
Aku tak pernah melihat indahnya,
hanya mendengar kabar dari burung-burung hantu.
Bintang-bintang redup hadiah darimu,
Masih bergelantungan di langit-langit kamarku:
berdebu.
seperti bulan dan mayapada,
jarak aku dan kamu ilusi.
hanya sampai mata, tak kunjung peluk
cuma angan, tak juga nyata.
Negeri kosong
tanggatangga rapuh terulur dari langit
menjejak ke bawah, dari awan
Negeri kosong
dari atas kepalamu yang berada di dalam sebuah sumur kering
sepasang tangan muncul meraihmu naik
kau menitinya satu persatu
menunjal pada anak tangga yang hampir berjelabak menahan beban tubuhmu
serta bahara hatimu
Negeri kosong
denaidenai tapak kaki di pasir, [...]
mungkin kau
masih terlunta-lunta di sana,
tak dapat memutuskan
apakah aku tenggelam
atau putri duyung
Kemerdekaan adalah,
kita saling menatap lagi,
tanpa dirantai segan.
Dalam pengasingan,
Diamdiam kutorehkan turus di dinding penjaraku
Seraya berharap pintu-pintu terbuka
Dan kau menjaminku pulang.
Waktu merambat terlalu pelan hingga aku pasrah dan berpaling.
Vonis telah dibacakan,
dan terkucil darimu adalah hukumanku,
balasan atas sabotase yang mungkin kulakukan
atau mungkin, murni kekejamanmu.
[...]
kau berbaur sempurna dengan malam,
menunggangi badai,
melolong pada bulan.
:sayup di telingaku, mengoyak aorta.
kau berbaur sempurna dengan malam,
kala yang dahulu adalah wilayah tak terjamah
yang kupijaki kini bersama tiadamu.
maka bulan yang khianat,
aku mengudetamu.
Turunlah!
Laungku memakimu agar tak kautampakkan bulat sempurnamu di langit.
Kemang, 14 Agustus 2011, [...]
seseorang mengetuk pintu tadi malam.
separuh gigil aku mengintip
karena terlalu gelap, yang kulihat hanya bayangan hitam.
aku membiarkannya berdiri di sana.
ia tak beranjak.
kakiku terantuk tubuhnya tatkala kubuka pintu esok subuh,
ketika fajar memecah langit dengan segaris cahaya.
dia menatapku.
aku menatapnya.
kemudian jari-jarinya terentang,
tangannya terulur hendak menangkap kakiku.
[...]
kau adalah hangat
yang menyebarkan
bunga-bunga salju
ke pembuluh darah.
sapamu setetes tuba:
meledakkan sepi ke ulu hati.
genggam tanganmu yang remuk adalah alasan mengapa jemariku tak pernah erat menggamitnya kembali.
pada tatapmu yang gerhana telah kupinta secarik teduh yang tak kudapatkan ketika terangmu beringas membuat mataku buta. tetapi kau memberiku bingkisan jejak tak kasat mata di kulitku, dan rajah kenangan yang tidak pula musnah.
kau tak pernah bersahaja [...]
pada halaman pertama kau adalah serigala
setiap purnama lolongmu pekik memenuhi udara
dalam telikung malam yang memantulkan bintang-bintang
ke dasar telaga hening yang kusebut matamu.
halaman berikutnya adalah kekusutan yang harus kuurai sendiri
sebuah labirin yang ingin kutinggalkan, tetapi aku tak dapat meloncat pergi.
tembok-temboknya terlalu tinggi sehingga harus kumohon padamu untuk melepaskanku.
[...]
Blogroll
Archives
- May 2013
- April 2013
- November 2012
- October 2012
- September 2012
- August 2012
- July 2012
- June 2012
- May 2012
- April 2012
- March 2012
- February 2012
- January 2012
- December 2011
- November 2011
- October 2011
- September 2011
- August 2011
- July 2011
- June 2011
- May 2011
- April 2011
- March 2011
- February 2011
- January 2011
- December 2010
- November 2010
- October 2010
- September 2010
- August 2010
- July 2010
- June 2010
- May 2010
- April 2010
- March 2010
Kategori
- baca puisi (3)
- benang takdir (2)
- Cerpen (40)
- dongeng (8)
- News (1)
- novel (1)
- Puisi (75)
- surat (2)
- Terjemahan (1)
- Uncategorized (4)








