“Aku punya pacar,” pamerku pada lelaki yang tengah duduk di meja dapurku, berkonsentrasi pada laptopnya. Aku membalik panekuk di atas wajan, kemudian melemparkannya ke piring. Menuangkan kembali adonannya di atas wajan panas, membaliknya lagi.

Lelaki itu tidak berkomentar. Jadi aku mengatakannya lagi. “Aku punya pacar,” ujarku, melemparkan kembali lempengan panekuk di atas panekuk hangat lain di piring, kemudian menyiramnya dengan saus madu.

“Aku tahu,” gumamnya. Matanya masih terpancang pada layar laptop. Kupindahkan piring berisi tumpukan panekuk itu ke meja.

“Tahu dari mana?” tanyaku sambil menuangkan kopi dari coffeemaker ke dalam dua mug keramik.

“Kamu kayak kelinci energizer gitu, loncat-loncat ga karuan kayak kelebihan energi,” ujarnya merujuk iklan baterai dari era tahun Sembilan puluhan.

“Sarapan,” aku menaruh piring kosong di hadapannya. “Enggak ah, aku ga loncat-loncat ga karuan.”

“Ini buktinya!” katanya sambil menyantap panekuk buatanku ke mulutnya. “Enak.”

Aku menyeringai senang.

“Kamu sering-sering aja ya punya pacar. Masakan kamu enak. Kalau lagi jomblo mana mau kamu masak,” katanya sambil tertawa. Tawanya renyah, aku senang mendengar tawanya.

“Cuma panekuk aja,” ujarku merendah. “Kamu ga ngasih selamat atau apa gitu? Aku punya pacar!”

Dia cuma melirik sebentar dengan pandangan menyebalkan, lalu mengucapkan selamat. Aku ingin menimpuknya dengan wajan panas.

“Ya kan aku udah jomblo empat tahun gitu! Seneng dong harusnya, temennya punya pacar.”

“Iyaaa, ikut senang. Reporter itu, kan?”

“Kok tahu lagi, siiihh?”

“Ya, kamu pake pengumuman di facebook segala,” dia berkata tanpa menyembunyikan tawa terbahaknya. Aku cemberut.

“Bukan aku! Dia duluan yang ngajak in relationship.”

“Intinya kamu bikin pengumuman, kan?”

“Bukan aku, tapi dia!” seruku tak bisa menahan senyum. “Dia pasti sayang banget sama aku.”

Mas Reza, lelaki di hadapanku itu, memutar mata. Dia adalah sahabat terbaikku. Wait, dia bukan sahabatku sebenarnya, karena aku mencintainya. Tapi keadaannya begitu rumit sehingga kami tak mungkin bersama. Jadi, aku senang dengan hanya begini saja. Dia berkunjung ke apartemenku, hanya untuk ngobrol-ngobrol atau nonton DVD, atau main PS, atau hanya untuk sibuk sendiri dengan laptop masing-masing. Kadang dia menginap, di kamar lain tentu saja. Ah, walaupun untuk apa kujelaskan itu. Kalian pasti tidak percaya kalau kami tidak ada hubungan apa pun kecuali berteman? Sebut saja kami dekat. Titik. Hanya seperti itu.

Aku tinggal sendiri di apartemenku. Seringkali aku butuh bantuan laki-laki untuk mengerjakan beberapa hal yang tak bisa kulakukan sendiri. Aku akan meneleponnya dan menyuruhnya datang. Untuk memasang tabung gas, atau memperbaiki keran air, hal-hal seperti itu. Walaupun pada akhirnya aku mengerjakannya sendiri, karena Mas Reza tak selalu bisa datang. Tapi ada untungnya juga sih, aku sudah mahir memanjat meja untuk mengganti lampu, dan memasang gas, serta memasang galon di atas dispenser – tanpa basah kuyup.

“Just wait for three month,” katanya. “Kalau kamu masih bertahan sama dia, marry him.”

“Maksudmu?”

“Kamu akan tahu ntar. With a face like that, and his facebook profile… he’s a player.”

“Are you jealous?” tanyaku menyelidik.

“Hei… not me! I never losing control,” dia menyangkal dengan ringan, menyesap kopinya perlahan, mengacungkan mugnya padaku sebelum menaruhnya lagi di meja. “Mmm, enak. Seriusan. Kamu harus sering-sering masak. Buka restoran sekalian.”

“Itu cuma panekuk.”

“And good coffee! Admit it, you’re that good!”

 

 

Pacarku menyita banyak waktuku sehingga aku jarang sekali bertemu dengan Mas Reza. Bahkan, untuk sekadar sms ataupun telepon, kami sudah tidak pernah lagi. Aku begitu kasmaran, dibuai asmara sehingga melupakan semuanya. Pacarku ini laki-laki romantis. Paling keren sedunia pokoknya. Setiap kali aku sendirian, seringkali aku melamun memikirkan betapa beruntungnya aku punya pacar seperti dia. Klise. Biarkan. Aku pun boleh kan jatuh cinta sedalam itu?

Tetapi, pacarku memang laki-laki yang layak untuk dijatuhcintai dengan dalam. Begini. Seumur-umur, aku tidak pernah memiliki pacar seromantis dan seperhatian dia. Dua kekasihku sebelumnya malah bisa dibilang tidak pantas dibilang kekasih. Angga, pacar pertamaku, adalah cinta monyetku semasa SMA. Kegiatan pacaran kami tak jauh-jauh dari sekolah-tempat les-rumahku. Belajar. Kami hanya saling bertukar surat untuk mengungkapkan perasaan. Hanya seperti itu. Hubungan kami merenggang setelah kami lulus SMA. Walaupun kami sama-sama kuliah di universitas yang sama, kesibukan dan teman baru membuat segalanya berubah. Kami saling melupakan. Hubungan kami jadi sebatas saling hai ketika tak sengaja berpapasan.

Aku bertemu Mico, pacar keduaku, di gathering memperingati ulang tahun kantor. Pada masa-masa itu, kantorku pemurah sekali dalam hal hura-hura. Seribu lima ratus karyawan diangkut dalam 20 bus konvoi ke Bandung Utara. Teman sebangkuku di bus memperkenalkanku padanya.

“Dea, Ini Jatmiko.”

“Mico,” sergahnya sambil memberi tatapan menusuk pada teman baruku dan mengulurkan tangannya.

“Hai, Aradea.” Aku menggenggam tangannya erat sambil memikirkan ciri-ciri genggaman tangan dan hubungannya dengan kepribadian yang pernah dibacanya di salah satu artikel majalah.

Kami berdua tak terpisahkan sejak saat itu, kecuali ketika karyawan laki-laki shalat Jumat di aula hotel dan para perempuannya sibuk bergosip di kamar masing-masing. Aku menerima beberapa sms dalam jeda shalat Jumat itu. Puisi-puisi. Kelak bertahun-tahun kemudian aku baru sadar kalau puisi yang dikirimnya adalah milik Chairil Anwar.

Gathering karyawan itu seperti mimpi. Untuk pertama kalinya aku tak sengaja menenggak campuran vodka dan jeruk dalam galon aqua yang bebas disediakan di meja. Tangannya melingkar di pinggangku. Dengan sedikit mabuk kami bergoyang mengikuti irama musik dangdut dari panggung. Ira Swara yang menyanyi dalam pakaian ketat berkelap-kelip. Dia sedang ngetop-ngetopnya waktu itu.

Malam ditutup dengan pengumuman doorprize untuk karyawan. Mico membawa pulang sepeda motor. Aku mendapatkan doorprize handphone murah. Teman-temannya yang mabuk menceburkannya ke kolam renang. Aku memandanginya sambil menulis puisi di ponsel, lalu mengirimkan puisi itu padanya.

Kami menjadi sepasang kekasih keesokan harinya. Barangkali dia lupa karena terlalu mabuk, entahlah. Dia mengantarkanku pulang ke kos, lalu pulang.

Hubungan kami hanya bertahan satu minggu. Dia berkata kalau perasaannya telah hampa, dan dia bukan lagi kesatria tangguh berbaju zirah dalam kuda putih. Pada saat itu, aku mulai merasa kalau laki-laki ini sedikit sakit jiwa. Apalagi setelah itu, setiap kali dia mendatangiku, dia selalu menceritakan hal-hal yang sepatutnya hanya bisa terjadi di dalam fiksi. Setidaknya tidak di duniaku yang normal dan terdiri dari orang-orang baik yang religius dan tidak pernah mabuk, selingkuh, ataupun main cewek.

Cerita-cerita itu kelak selalu kukisahkan kembali dalam cerita-cerita fiksiku yang kukirimkan ke majalah.  Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Beberapa waktu lalu, dia mengajakku berteman di facebook. Dari statusnya, sepertinya dia telah menikah. Tetapi gaya tulisannya masih sama. Sok puitis. Dan sedikit mencuri Chairil Anwar.

Kemudian aku tidak pernah punya pacar lagi. Hidup telah meyakinkanku kalau sebenarnya aku tidak berbakat punya pacar, atau berkomitmen dengan siapa pun. Pertemananku hanya berlangsung temporal, berdasarkan berapa lama kami bersama-sama di satu tempat. Jika berpisah, kami pun lama kelamaan tak berteman lagi.

Hanya Mas Reza. Dia temanku paling lama. Enam tahun. Walaupun dia selalu berpindah-pindah kota, tetapi dia selalu menyempatkan diri menghubungi dan memperhatikanku. Aku mencintainya. Aku tidak pernah mengatakannya. Gengsiku terlalu tinggi.

Jadi, ketika Aksan yang ganteng dan baik dan pintar dan reporter dan ah ah ah ah segalanya, aku tak pikir panjang. Aku harus mengejar laki-laki ini! Kecuali kali ini aku tak mengejar, karena Aksan memperlakukanku seperti putri, aku tak perlu susah payah mengejar-ngejar.

Bunga, cokelat, kata-kata manis. Hal-hal yang tidak pernah kudapatkan di masa cinta monyetku. Mas Reza seringkali meledek setiap kali aku memamerkan bunga yang dikirim Aksan untukku.

“Cowok kayak gitu pasti pacarnya banyak. Atau psycho.”

Dan pembicaraan kami akan berakhir dengan aku menutup telepon, atau mengusirnya pergi, atau sign out dari yahoo messenger. Biasanya dia tidak berusaha membujukku agar tidak marah, karena dia yakin dia benar.

“No, seriously? Do you really believe him? He’s coming out of nowhere, showering you with flowers. Telling you sweet lies.”

“What the hell is wrong with you?”

“You will know. Just wait and see.” Dia mengatakannya dengan yakin. Seyakin dirinya pada ketiadaan Tuhan.

Enam bulan berlalu dan aku masih bersama Aksan. Seringkali, aku gatal ingin pamer pada Mas Reza kalau apa yang dikatakannya salah. Kalau Aksan memang sungguh mencintaiku dan bukan menjadikanku sebagai jeda dalam hidupnya. Atau pengisi kekosongan. Atau sekadar pelarian. Aku dan Aksan memang masih pacaran, tetapi aku mulai merasakan ada sesuatu yang salah.

Dia memberiku bunga sebagai ganti waktu bersamaku yang hilang karena dia mengaku harus mengejar berita. Berbagai macam hadiah menjadi seperti suap bagi ketiadaannya. Dia tidak pernah ada. Hanya memberiku status pacar, tetapi tidak pernah menjadi kekasihku. Aksan tidak pernah mau berbagi. Dia menyimpan sendiri semua masalahnya. Menutup dariku kisah-kisah kesehariannya. Tak pernah bercerita tentang anggota keluarganya. Siapa nama mereka, ada berapa saudara-saudaranya, apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Aku mengetahui semua itu dengan menyelidiki kata kunci namanya di google.

Bukankah aku pacar yang menyedihkan?

Di hadapan teman-teman kami, aku dan Aksan adalah pasangan serasi yang membuat semua orang iri karena kemesraan kami. Atau barangkali sebenarnya mereka muak menyaksikan kami mengumbar mesra di depan umum. Jika hanya di facebook aku bisa mendapatkan kata cintanya, akan kukejar.

Hingga akhirnya aku tidak tahan lagi.

Aku mengajaknya makan malam di restoran yang menyenangkan dan sepi agar aku bisa mengobrol. Aku sudah mewanti-wanti pelayan untuk menyiapkan tisu di meja. Seandainya aku menangis.

Aku belum mengatakan apa pun ketika dia menggenggam tanganku dan berusaha melihat ke kedalaman mataku. Matanya sayu, seolah menginginkan pengertian dariku. Kemudian terlontarlah kata itu.

“Dea, kita putus aja, ya.”

Aku melempar kotak tisu ke wajahnya. Kesal. Karena dia yang mengatakannya lebih dulu. Ujung kotak tisu yang terbuat dari alumunium itu menggores pelipisnya hingga berdarah. Aku berdiri dan minggat.

 

“Aku diputusin,” keluhku.

Mas Reza duduk di meja dapurku, tanpa laptopnya, menatapku. Matanya bening tak kedip menatapku.

“Aku kan udah bilang….”

Aku ingin melempar centong ke kepalanya. Tapi tidak kulakukan. Alih-alih, aku mengaduk bubur ketan hitam hampir matang di panci di hadapanku. Menggelegak. Aku menambahkan air dan sedikit gula. Permukaannya kembali tenang. Aku mengaduknya lagi.

“Aku kenal sama dia, Dea. Dulu kami pernah bekerja sama dalam satu proyek dan hampir gagal karena perilakunya. Orang seperti dia tidak bisa mencintai seseorang dalam waktu lama. Dia tidak pernah menyelesaikan apa pun. Tetapi masalah-masalah yang dia timbulkan selalu ditutup-tutupi oleh uang ayahnya. Dia mudah sekali bosan.”

“Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?”

“Kamu kan lagi jatuh cinta. Aku ngomong apa pun nggak mau denger. Daripada kamu marah.”

“Tapi kamu emang selalu jelek-jelekin dia. Ya iyalah aku marah.”

“I care about you, De.”

Aku tidak berkomentar. Mencicipi bubur ketan hitamku di telapak tangan dan memutuskan kalau sudah matang dan lezat. Aku mengambil mangkuk dan menuangkan dua centong besar ke dalamnya. Menyiramkan santan ke atasnya. Menyajikannya di depan Mas Reza.

“Cobain,” perintahku sambil mengulurkan sendok ke tangannya. Dia menyendok bubur dan meniup-niupnya. Masuk mulut.
“Enak.”

“Kamu ga kepingin nikah sama aku aja, Mas?” tiba-tiba aku berkata.

Mas Reza hanya menatapku dengan pandangan kosong lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke buburnya. Menyendok kembali.

“Kau tahu aku tak berminat menikah, Dea. Cinta dan segala perbudakannya.”

Aku mengambil mangkok kedua dan merasakan sengatan perih, lagi-lagi, di hatiku.

 

Kemang, 6 Juni 2012

 

 

 

 

 

13 Responses to pamer

  1. juman says:

    forever alone

    :P

  2. Jia says:

    you don’t say :) )

  3. RuriOnline says:

    bukan perbudakan, reza bodoooh! itu namanya komitmen. responsibility. *keplak reza pake wajan*

  4. adynura says:

    merasa senang karena usulan namaku terpakai,walopun jadi nama cowo playboy tp gpp,hahaha….
    Ga ngerti sama si reza,tp suatu saat dia bakal butuh kok yg namanya cinta,pasangan hidup,komitmen menikah dan sebagainya…

    • Jia says:

      ada orang-orang tertentu yang tidak butuh menikah kok. biarkan saja :) )

      • spermabasi says:

        Bener banget!
        Contoh: Si A sayang si B. Si A sadar diri kalo itu gak bisa ngebuat dia setia sama si B sebagai satu-satunya partner-sex nya setelah mereka nikah kelak. Yaudah deh si A ngambil alternatif lain :)

  5. bagus banget ceritanya :D salam kenal kakak :)

  6. hhmmmm…. ikut merasa perih….

  7. irdix says:

    *keplak reza pake wajan fiktif*

  8. Bagus ceritanya, walaupun tokohnya cuma fiktif tapi konfliknya dapet. Kalo sempet visit back ya :)

Leave a Reply

WP Like Button Plugin by Free WordPress Templates